Yes I Do

Program Yes I Do

(RUTGERS WPF INDO – PKBI JABAR)

Periode 2018

 

PKBI CABANG   : Sukabumi

STRATEGI PROGRAM PKBI   : Memberdayakan Masyarakat untuk Memperjuangkan Hak  Seksual dan Reproduksi bagi Dirinya dan Orang Lain

KOORDINATOR PROYEK   : Deri Irawan

PENDANAAN   : Rutgers WPF Indonesia

Durasi Program   : 01/01/2018  s/d 31/12/2018

LOKASI   : Kab. Sukabumi

JENIS LOKASI   : Desa

TARGET GROUP   :

Rentang penghasilan perbulan (rata2)   : –
Jenis kelamin   : Anak Perempuan
Rentang Usia   : 10 – 15 tahun

 

TUJUAN UMUM :

Memberdayakan anak dan remaja dengan pengetahuan dan pemahaman tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi agar mereka dapat bersikap dan berperilaku bertanggung jawab untuk mengurangi KTD, IMS, HIV/AIDS, Nikah Usia Dini, Aborsi yang tidak aman di kalangan Anak dan remaja.

RINGKASAN PROGRAM :

PKBI memiliki komitmen yang kuat terhadap issu kesehatan reproduksi dan relawan-relawan yang mampu mewujudkannya. Citra PKBI di masyarakat merupakan salah satu kekuatan sehingga program ini bisa berjalan dengan baik. Pihak pemerintah, NGO dan masyarakat serta kaum remaja memiliki kepentingan yang sama terhadap terciptanya masyarakat yang sehat. Kolaborasi yang telah terbangun hingga saat ini hanya perlu ditingkatkan dan dikembangkan secara terpadu dan komprehensif.

Pendekatan kepada tokoh masyarakat dan tokoh agama, dunia pendidikan serta kepada penerima manfaat langsung yakni remaja dan orang tua sudah dijalankan dengan baik dengan pelibatan langsung ke kegiatan dan perencanaan.

Kegiatan-kegiatan proyek yang direncanakan antara lain : 1) kegiatan persiapan berupa pertemuan rutin relawan, 2) kegiatan  lapangan berupa penyuluhan dan diskusi rutin di sekolah, penjangkauan remaja luar sekolah, pelayanan konsultasi, 3) Monitoring dan Evaluasi.

Diharapkan nantinya selama setahun proyek mendapat dukungan dari berbagai pihak baik pemerintah maupun non pemerintah di tingkat lokal, nasional maupun regional.

LATAR BELAKANG :

Data perkawinan anak pada tahun 2016 di kecamatan Sukaraja (desa Sukaraja 289 dan desa Limbangan 87), dan kecamatan Cisolok tahun 2014 (desa Cisolok 7 dan desa Cikelat 24), tahun 2015 (desa Cisolok 5 dan desa Cikelat 16) , dan tahun 2016 (desa Cisolok 12 dan desa Cikelat 21).

Faktor dominan yang menyebabkan terjadinya praktek pernikahan anak adalah kurangnya informasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi, hamil diluar nikah, kawin kontrak, tingkat pendidikan yang rendah, tarap kehidupan ekonomi yang rendah dan perjodohan. Sementara data kehamilan remaja tahun 2016 di Kecamatan Sukaraja (desa Sukaraja 171 dan desa Limbangan 51), dan data di kecamatan Cisolok tahun 2015 (di desa Cisolok 5 kasus dan desa Cikelat 10) dan tahun 2016 (desa Cisolok 9 dan desa Cikelat 0).

Sementara itu beberapa faktor yang menjadi penyebab dominan terjadinya kehamilan pada remaja adalah karena pernikahan anak, pendidikan yang minim, pergaulan bebas, dan permasalahan internal keluarga (broken home).

Selanjutnya data sunat perempuan di 2 kecamatan tersebut tidak ada data yang dapat disajikan.Akan tetapi berdasarkan informasi yang berkembang bahwa hampir semua perempuan di wilayah tersebut mengalami tindakan sunat.

Apabila tidak dilakukan intervensi program di 2 kecamatan tersebut maka sangat dimungkinkan memicu tingginya AKI dan AKB, tingginya tingkat perceraian, pendapatan ekonomi yang rendah, angka pengangguran meningkat sehingga menyebabkan kualitas hidup masyarakat menurun.

Adapun kebijakan lokal yang dianggap relevan dengan isu-isu program yang telah ada di Kabupaten Sukabumi yaitu telah terbentuknya PIK-R yang diinisiasi oleh BKKBD serta Peraturan Bupati Nomor 40 Tahun 2013  tentang Penyelenggaraan Kemitraan Bidan, Paraji dan Kader Kesehatan. Tentunya kebijakan lokal tersebut dinilai masih belum bisa menjadi pijakan, perlu upaya keras advokasi di tingkat kabupaten sekaligus di tingkat desa agar program intervensi ini memiliki payung hukum yang kuat untuk menciptakan mekanisme monitoring bersama terhadap praktek-praktek yang masih berlangsung dalm konteks perkawinan anak, kehamilan remaja dan sunat perempuan.

Permasalahan sosial timbul di kalangan remaja dengan banyaknya kasus-kasus pernikahan dini, kehamilan tidak diinginkan, sex bebas, pacaran yang tidak sehat, penularan HIV-AIDS, penyalahgunaan narkoba, hingga kepada geng motor anarkis, sebagian besar akibat remaja belum banyak memahami dan menyadari hakikat mereka dalam mengembangkan diri secara positif dan terjerumus dalam aktivitas yang merugikan masa depan mereka. Aspek pengetahuan yang terbatas sedikit banyak memberi pengaruh pada pengambilan keputusan yang tidak tepat dan menguntungkan bagi remaja. Faktor lingkungan sosial, solidaritas, pergaulan, keluarga dan penerimaan informasi yang tidak memiliki filter moral dan cukup pengetahuan juga menjadi pemicu permasalahan-permasalahan yang timbul pada remaja. Bila permasalahan-permasalahan terjadi dan menumpuk pada diri remaja-remaja, maka putus sekolah, adalah akibat yang bisa saja terjadi, dan lebih jauh lagi bisa lebih fatal.

PKBI Sukabumi, melalui Program yang sedang dikembangkan melalui dukungan Rutgers WPF Indonesia memiliki komitmen pada penanganan permasalahan remaja tidak sebatas pada permasalahan kesehatan reproduksi, HIV-AIDS dan Narkoba, tapi aspek psikologis dan pembangunan karakter remaja melalui kegiatan-kegiatan positif yang memberikan remaja ruang kreatifitas baik melalui dunia pendidikan/ekstra kurikuler disekolah maupun di luar sekolah.

Entry point dari pembinaan dan pemberdayaan remaja ini, dilakukan melalui pengorganisasian remaja melalui informasi dan pengkomunikasian kesehatan reproduksi, membangun komitmen remaja secara bersama memiliki kepedulian membantu remaja lainnya memperoleh informasi kesehatan reproduksi secara baik, benar dan terarah. Remaja berhak mengetahui apa yang ada pada diri mereka, dan cara menggunakannya secara baik dan benar, tidak melanggar nilai-nilai, moral, etika dan aturan yang berlaku serta dianut masing-masing remaja.

Dibalik keceraiaan remaja terselip banyak permasalahan yang bisa menjadi bumerang bagi mereka. Ancaman HIV/AIDS, Aborsi, KTD akibat HUS pra Nikah, penyalahgunaan Narkoba dan tekanan psikologis akibat lingkungan pergaulan mereka, menjadikan permasalahan yang perlu mendapat perhatian khusus oleh berbagai pihak terkhusus oleh PKBI.

Pengetahuan kespro yang masih rendah dan HUS pra Nikah remaja di Kab. Sukabumi terlihat masih tinggi sekitar 59,7%. Kasus HIV/AIDS sudah mencapai 650 orang (Sept.2016) dan 45% nya adalah usia remaja.

Situasi ini mengisyaratkan perlunya keterlibatan semua pihak, orang tua, guru, masyarakat agama, tokoh masyarakat pemerintah, LSM dan legislatif untuk bersama-sama melakukan penanganan permasalahan remaja baik dari aspek regulasi, implementasi program dan kegiatan yang melibatkan remaja hingga kepada bimbingan dan pemberian informasi dan pelayanan yang ramah kepada remaja.