Kebutuhan Pelayanan Kesehatan Reproduksi

 

Berlian (Berbagi ilmu antar relawan) edisi spesial tanggal 29 Juni 2021 dengan mengundang narasumber dari Perkumpulan Puzzle Indonesia, Female Plus dan IPPI yang berpengalaman dalam issue HIV dan komunitas.

Bicara soal layanan kesehatan reproduksi pada diskusi ini ruang lingkupnya yaitu konseling, kontrasepsi, IMS, Tes HIV, ginekologi organ reproduksi perempuan dan kekerasan berbasis gender.

Berdasarkan STBP (Survei Terpadu Biologis dan Perilaku) tahun 2007 prevalensi HIV pada LSL (Lelaki Seks Lelaki) 5,9% menjadi 17,9% pada tahun 2018. Survei yang dibuat oleh Perkumpulan Puzzle Indonesia menunjukan 60 % kelompok dampingan atas kemauan sendiri datang ke layanan untuk tes HIV, itu berarti kesadaran akan pentingnya mengetahui status kesehatan sudah baik. Hal tersebut tidak terlepas dari peran petugas lapangan yang pernah mendampingi mengakses layanan.

Temuan lainnya komunitas mempunyai gejala IMS LSL 21 % , WPS (Wanita Pekerja Seks) 29 %, Waria 12 %. Pemahaman LSL mengenai ciri-ciri orang terinfeksi HIV sebanyak 64% sudah tahu. 90% LSL sering mengakses internet atau layanan virtual untuk mendapat informasi layanan kesehatan.

Adapun poin yang menjadi usulan dalam hal layanan yaitu meningkatkan pemberian layanan IMS lalu melaksanakan skrining HIV untuk penderita IMS, mempromosikan dan memberikan kondom, mental health sebuah intervensi kebutuhan dasar, perubahan perilaku menjadi tidak berisiko melalui konseling. Kesimpulan dari hasil survei yakni isu Penyakit IMS dan kesehatan reproduksi relatif terabaikan dan perlu set up layanan one stop service seperti di klinik mawar PKBI Kota Bandung.

Tanggapan dari peserta :

Denden Supresiana :

Pengertian kesehatan reproduksi suatu kondisi sehat secara fisik dan mental. Temuan kasus sebanyak 3% (5 orang) LSL positif HIV tahun 2021 di Kab.Garut akibat perilaku seksual. Hak dan teori kesehatan reproduksi (kespro) harus dipahamkan, pada diskusi ini perlu dibahas bagaimana strategi khusus agar komunitas paham kespro dan bisa menjaga kesehatannya.

Kin Fathudin :

Bagaimana individu memahami kespro yaitu respek pada diri sendiri dan tidak saling menyakiti, bahasan kesehatan reproduksi sangat dihindari pada kelompok dibawah umur, pandangan saya kespro kurang diberikan pemahaman kepada petugas lapangan. perilaku LSL menjadi sasaran stigma masyarakat padahal semua orang bisa kena IMS, klinik mawar identik dengan komunitas padahal dari awal didirikan layanan yang tersedia untuk umum siapapun bisa datang kesitu.

Berikut ini pendapat dari narasumber terkait kebutuhan layanan kesehatan reproduksi :

  1. One stop service dibutuhkan oleh siapa aja, sekarang sangat sedikit LSL yang meminta perlakuan khusus di layanan
  2. Infrastruktur layanan perlu yang nyaman dan SDM layanan jangan sampai burnout.
  3. Kegiatan kelompok LSL banyak cari hobi yang sama dan bertanya banyak hal kepada orang yg lebih pinter.
  4. Kendalanya malu memeriksakan diri, ada contoh dampingan LSL mengalami IMS malu untuk mengakses layanan
  5. Status ekonomi yang mengalami double infeksi cukup membebani dalam biaya layanan
  6. Perlunya informasi tarif layanan dan ketersedian Anti Retro Viral (ARV)
  7. IMS pada perempuan berkaitan dengan kebersihan diri.
  8. Isu lain adanya kekerasan terhadap perempuan tetapi tidak mau melaporkan
  9. Jarang ada papan informasi terkait kekerasan gender dan hak perempuan di layanan
  • Share This Story

about author

admin

pkbijabar@pkbi.or.id

Administrator Website PKBI Jawa Barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *